Semakin Banyak Ilmu, Belum Tentu Semakin Bijak

Hikmah dalam Al-Qur'an mengajarkan kita bukan hanya apa yang perlu dilakukan, tetapi juga apa yang sebaiknya ditinggalkan.
Kita hidup di zaman ketika informasi begitu mudah didapatkan.
Setiap hari kita bisa mempelajari hal baru, mengikuti berbagai perkembangan, mencoba banyak peluang, dan mengerjakan berbagai aktivitas.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya:
Apakah semua yang kita ketahui memang perlu kita kerjakan? Apakah semua kesempatan harus kita ambil? Apakah semua hal yang terlihat baik benar-benar menjadi kebaikan bagi kita?
Mungkin, masalah kita bukan lagi kekurangan ilmu. Bisa jadi, kita justru belum cukup bijak dalam menggunakan ilmu yang kita miliki.
Di sinilah kita perlu memahami sesuatu yang disebut hikmah.
1. Hikmah: Karunia yang Mengandung Kebaikan Besar
Allah berfirman:
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا
"Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa dianugerahi hikmah, sungguh, dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak."
Ayat ini menarik untuk kita renungkan.
Allah tidak sekadar menyebut hikmah sebagai sesuatu yang baik, tetapi menyebutnya sebagai kebaikan yang banyak.
Artinya, hikmah memiliki nilai yang sangat besar dalam kehidupan manusia.
Lalu, apa sebenarnya hikmah itu?
Secara sederhana, hikmah dapat dipahami sebagai kemampuan memahami kebenaran, mengetahui apa yang tepat, dan menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Dalam penjelasan Tafsir As-Sa'di pada ayat ini, hikmah mencakup ilmu yang bermanfaat, pemahaman yang benar, pemikiran yang matang, serta ketepatan dalam perkataan dan perbuatan.
Hikmah bukan hanya tentang mengetahui banyak hal, tetapi juga tentang memahami bagaimana ilmu tersebut seharusnya digunakan.
Seseorang mungkin memiliki banyak pengetahuan, tetapi belum tentu mampu menentukan mana yang harus diprioritaskan.
Seseorang mungkin mengetahui banyak cara untuk mencapai tujuan, tetapi belum tentu memilih cara yang benar.
Di sinilah ilmu perlu disertai hikmah.
2. Tidak Semua yang Bisa Kita Kerjakan Harus Kita Kerjakan
Coba perhatikan kehidupan kita sehari-hari.
Kita bisa mempelajari banyak keterampilan baru. Kita bisa membangun banyak proyek. Kita bisa mengikuti berbagai peluang yang datang.
Namun, waktu, tenaga, dan perhatian kita terbatas.
Ketika kita memilih melakukan sesuatu, sebenarnya kita juga sedang memilih untuk tidak melakukan hal lainnya.
Misalnya, seorang developer ingin mempelajari lima teknologi sekaligus.
Semua teknologi tersebut mungkin bermanfaat. Namun, apakah semuanya perlu dipelajari sekarang?
Mungkin ada satu teknologi yang jauh lebih dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan, membantu orang lain, atau membangun sesuatu yang bermanfaat.
Mengetahui banyak teknologi adalah ilmu.
Mengetahui teknologi mana yang perlu dipelajari terlebih dahulu adalah bagian dari hikmah.
Begitu pula dalam kehidupan.
Kita bisa mengetahui banyak hal yang baik, tetapi hikmah membantu kita memahami mana yang lebih utama, mana yang sesuai dengan keadaan, dan mana yang perlu ditunda.
Hikmah membantu kita membedakan antara sesuatu yang baik dan sesuatu yang paling tepat untuk dilakukan saat ini.
3. Al-Qur'an Mengajarkan Kita untuk Meninggalkan Hal yang Sia-Sia
Allah berfirman ketika menjelaskan karakter orang-orang beriman:
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
"Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna."
Ayat ini memberikan sudut pandang yang menarik.
Kualitas seorang mukmin tidak hanya terlihat dari apa yang dikerjakannya, tetapi juga dari apa yang mampu ditinggalkannya.
Kita sering mengukur keberhasilan dari banyaknya aktivitas.
Semakin sibuk, semakin produktif. Semakin banyak yang dikerjakan, semakin merasa berhasil.
Padahal, kesibukan belum tentu menghasilkan manfaat.
Ada aktivitas yang terlihat penting, tetapi sebenarnya tidak membawa kita lebih dekat kepada tujuan.
Ada perdebatan yang menghabiskan waktu tanpa menghasilkan kebenaran.
Ada informasi yang terus kita konsumsi, tetapi tidak membantu memperbaiki kehidupan.
Ada pula peluang yang terlihat menarik, tetapi justru mengalihkan perhatian dari sesuatu yang lebih penting.
Meninggalkan hal yang sia-sia bukan berarti kita berhenti melakukan sesuatu.
Justru, dengan meninggalkan yang tidak perlu, kita memiliki lebih banyak ruang untuk mengerjakan hal yang benar-benar bermanfaat.
4. Hikmah Bukan Sekadar Mengetahui Manfaat
Di sini kita perlu memahami satu hal.
Tidak semua yang terlihat bermanfaat harus langsung dilakukan. Dan tidak semua yang terlihat tidak produktif berarti tidak memiliki manfaat.
Istirahat, misalnya.
Jika kita hanya mengukur manfaat dari hasil yang terlihat, istirahat mungkin dianggap sebagai waktu yang terbuang.
Namun, istirahat yang cukup dapat membantu menjaga kesehatan, memulihkan tenaga, dan membuat kita mampu menjalankan tanggung jawab dengan lebih baik.
Begitu pula bermain bersama keluarga, bercanda dengan orang lain, atau menikmati waktu luang yang halal.
Manfaat tidak selalu berbentuk hasil yang langsung terlihat.
Karena itu, hikmah tidak hanya bertanya:
"Apakah ini bermanfaat?"
Tetapi juga:
- Bermanfaat untuk apa?
- Apakah manfaatnya benar-benar baik?
- Apakah ada mudarat yang menyertainya?
- Apakah ini perlu dilakukan sekarang?
- Apakah ada perkara lain yang lebih utama?
Pertanyaan-pertanyaan ini membantu kita melihat sesuatu dengan lebih utuh.
Hikmah bukan sekadar kemampuan menghitung keuntungan, melainkan kemampuan memahami kebaikan secara lebih menyeluruh.
5. Ilmu yang Bermanfaat Seharusnya Mengubah Cara Kita Hidup
Allah berfirman:
وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
"Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.'"
Memohon tambahan ilmu adalah sesuatu yang diajarkan dalam Al-Qur'an.
Namun, ilmu bukan sekadar sesuatu yang kita kumpulkan.
Ilmu seharusnya membantu kita memahami kehidupan dengan lebih benar.
Ketika ilmu bertambah, seharusnya kita semakin mampu membedakan kebenaran dari kebatilan, manfaat dari mudarat, serta perkara yang utama dari perkara yang kurang penting.
Dalam kehidupan sehari-hari, perubahan itu mungkin terlihat sederhana:
Dahulu kita mudah terpancing untuk berdebat. Sekarang kita lebih mampu memilih kapan perlu berbicara.
Dahulu kita ingin mengerjakan semua peluang. Sekarang kita lebih memahami keterbatasan waktu dan tenaga.
Dahulu kita menganggap semua aktivitas produktif itu baik. Sekarang kita lebih memperhatikan tujuan dan dampaknya.
Dahulu kita hanya berusaha menambah pengetahuan. Sekarang kita juga berusaha memperbaiki cara menggunakan pengetahuan tersebut.
Inilah salah satu bentuk kematangan dalam memahami ilmu.
6. Apakah Hikmah Merupakan Ilmu Tertinggi?
Al-Qur'an tidak secara eksplisit menyatakan bahwa hikmah adalah ilmu tertinggi dari seluruh ilmu.
Namun, Al-Qur'an memberikan kedudukan yang sangat mulia kepada hikmah, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 269.
Para ulama juga menjelaskan hikmah sebagai ilmu yang bermanfaat dan amal saleh, serta kemampuan memahami kebenaran dan menempatkan sesuatu secara tepat.
Karena itu, kita dapat memahami bahwa hikmah bukan sekadar kecerdasan atau banyaknya pengetahuan.
Hikmah adalah ketika ilmu membimbing seseorang kepada pemahaman yang benar dan tindakan yang tepat.
Ilmu membantu kita mengetahui.
Hikmah membantu kita memahami apa yang seharusnya dilakukan dengan apa yang kita ketahui.
Dan ketika ilmu serta hikmah membimbing kita kepada amal yang benar, di situlah ilmu mulai memberikan manfaat nyata dalam kehidupan.
Penutup: Mungkin Kita Tidak Perlu Mengerjakan Lebih Banyak
Ada kalanya kita merasa tertinggal karena belum mempelajari banyak hal, belum mencoba banyak peluang, atau belum menghasilkan banyak sesuatu.
Padahal, mungkin yang kita butuhkan bukan menambah lebih banyak aktivitas.
Mungkin kita perlu berhenti sejenak, melihat kembali arah yang sedang kita tempuh, dan memahami apa yang benar-benar penting.
Sebab, kehidupan bukan hanya tentang seberapa banyak hal yang mampu kita lakukan.
Kehidupan juga tentang seberapa tepat kita menggunakan waktu, tenaga, dan ilmu yang Allah karuniakan.
Semakin bertambah ilmu, semoga semakin bertambah pula kemampuan kita memilih kebaikan, meninggalkan kesia-siaan, dan menempatkan setiap perkara sesuai dengan kedudukannya.
Itulah salah satu pelajaran penting yang dapat kita renungkan dari hikmah dalam Al-Qur'an.
Wallahu a'lam bish-shawab.
About the author
I am an enthusiastic researcher and developer with a passion for using technology to innovate in business and education.
Comments
Join the discussionNo comments yet. Be the first to comment.





