Skip to main content

Kita Sama-Sama Punya 24 Jam: Mengapa Ulama Terdahulu Bisa Menghasilkan Begitu Banyak Karya?

Updated 13 min readMarkdown
Kita Sama-Sama Punya 24 Jam: Mengapa Ulama Terdahulu Bisa Menghasilkan Begitu Banyak Karya?

Ada sebuah pertanyaan yang menarik untuk direnungkan: Jika ulama terdahulu dan kita sama-sama diberi waktu 24 jam sehari, mengapa mereka bisa menghasilkan puluhan bahkan ratusan karya, sementara kita yang hidup dengan akses ilmu jauh lebih mudah justru sering kesulitan menyelesaikan satu karya?

Dahulu, seseorang harus menempuh perjalanan jauh untuk mendengar satu hadis, bertemu seorang guru, atau memperoleh satu kitab. Sekarang, kita bisa membuka ribuan kitab dari ponsel, menonton ceramah dari berbagai negara, membaca artikel ilmiah, dan berdiskusi dengan AI hanya dalam hitungan detik.

Namun, ada paradoks besar di sini: akses terhadap ilmu semakin mudah, tetapi mengubah ilmu menjadi pemahaman, karya, dan amal tidak otomatis semakin mudah.

Persoalannya bukan semata-mata berapa banyak waktu yang kita miliki. Persoalannya juga bagaimana kita memperlakukan waktu, perhatian, ilmu, dan tujuan hidup.

1. Mengapa ulama terdahulu bisa menghasilkan begitu banyak karya?

Arabic and Urdu: Linguistic Cousins with Distinct Identities - TheTalkList

The Philosophy of Imam Ghazali | History

Tire'deki Necip Paşa Kütüphanesi iki asırdır kitapseverleri ağırlıyor

10

Ada beberapa faktor yang membantu menjelaskan produktivitas para ulama terdahulu.

A. Mereka memiliki tujuan ilmu yang sangat jelas

Bagi banyak ulama, ilmu bukan sekadar sesuatu yang menarik untuk diketahui. Ilmu dipelajari untuk memahami agama, mengajarkannya, menjawab persoalan umat, menjaga warisan keilmuan, dan beramal dengannya.

Tujuan yang jelas membantu seseorang menentukan apa yang perlu dipelajari dan apa yang boleh ditinggalkan.

Bandingkan dua pola berikut:

  • Pola konsumsi: Hari ini membaca tafsir, besok menonton ceramah fikih, lusa mempelajari teknologi baru, kemudian berpindah ke topik lain karena muncul sesuatu yang menarik.

  • Pola pengembangan ilmu: Mempelajari satu persoalan, memeriksa sumbernya, membandingkan pendapat, membuat catatan, menyusun kesimpulan, kemudian mengajarkannya atau menghasilkan karya.

Pola pertama bisa membuat seseorang merasa banyak belajar. Pola kedua lebih memungkinkan pengetahuan terakumulasi menjadi keahlian.

B. Mereka mengulang dan mendalami, bukan hanya mengenal

Ilmu yang sekadar dibaca sekali biasanya mudah terlupakan. Ilmu yang dibaca, dipikirkan, dicatat, diuji, diajarkan, dan diulang akan lebih mungkin menjadi pemahaman yang kokoh.

Karena itu, banyaknya halaman yang dibaca tidak selalu sebanding dengan kedalaman ilmu yang diperoleh.

Seseorang bisa menghabiskan tiga jam menonton puluhan video, tetapi kesulitan menjelaskan kembali satu gagasan tanpa membuka ponsel. Orang lain mungkin hanya mempelajari satu persoalan selama tiga jam, tetapi menghasilkan catatan yang bisa digunakan bertahun-tahun.

C. Mereka hidup dalam tradisi keilmuan yang berkesinambungan

Para ulama tidak selalu bekerja sendirian. Mereka belajar kepada guru, berdiskusi dengan murid, mengoreksi karya, menerima riwayat dari orang lain, dan mewarisi pengetahuan generasi sebelumnya.

Kitab yang kita baca sekarang sering kali merupakan puncak dari proses panjang: belajar, mengajar, membaca sumber terdahulu, berdialog, menyusun, dan merevisi.

Jadi, jangan membayangkan setiap kitab besar lahir dari seseorang yang duduk sendirian dan menulis seluruh isinya dari nol.

D. Mereka memiliki disiplin dan kebiasaan yang berulang

Karya besar sering lahir bukan dari satu hari yang luar biasa, melainkan dari banyak hari biasa yang digunakan dengan baik.

Jika seseorang menyediakan dua jam sehari untuk menulis dan mengembangkan pemikirannya, dalam setahun ia memiliki sekitar 730 jam. Itu adalah waktu yang cukup besar untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai, asalkan dilakukan secara konsisten dan disertai proses belajar yang memadai.

Pelajaran pentingnya: produktivitas keilmuan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh akumulasi perhatian dan usaha selama bertahun-tahun.

2. Kisah nyata para ulama dalam menjaga waktu

Ada beberapa kisah yang cukup kuat untuk menggambarkan bagaimana mereka memandang waktu. Kita juga perlu membedakan antara riwayat biografi yang terdokumentasi dan angka-angka fantastis yang kadang beredar tanpa pemeriksaan.

ألّف موسوعة من 800 جزء وناصر الحلّاج وتأثر بالمعتزلة فمهّد لنشأة "الأشعرية الحنبلية".. ابن عقيل الحنبلي متمرد أم إصلاحي؟ | تراث | الجزيرة نت

1. Ibnu ‘Aqil al-Hanbali (431–513 H)

Ibnu ‘Aqil dikenal sebagai ulama Baghdad yang mempelajari banyak disiplin ilmu. Dalam biografinya, dinukil pernyataan bahwa ketika lisannya lelah berdiskusi dan matanya lelah membaca, ia tetap menggunakan pikirannya untuk merenungkan persoalan. Jika menemukan gagasan, ia berusaha mencatatnya. Bahkan, ia menggambarkan semangat belajarnya ketika berusia lanjut lebih besar daripada saat muda.

image

TDV İslâm Ansiklopedisi

+1

Pelajarannya: ketika tidak bisa membaca atau menulis, seseorang masih bisa merenung. Ketika tidak bisa bekerja berat, ia mungkin masih bisa membuat kerangka, mengingat kembali, atau merencanakan pekerjaan.

[68] Mahdawiyyah (The Culminating Guidance) - The Architecture of Guidance - Part 8 - The Brothers of Baghdad: The World That Surrounded Them

2. Ibnu al-Jauzi (508–597 H)

Ibnu al-Jauzi dikenal sebagai ulama, penceramah, dan penulis yang sangat produktif. Karya yang dinisbatkan kepadanya mencakup banyak bidang, dan Ṣayd al-Khāṭir menjadi salah satu karya reflektifnya tentang pikiran, akhlak, dan kehidupan.

image

sites.dlib.nyu.edu

+1

Salah satu pelajaran yang dapat diambil dari tradisi pemikirannya ialah pentingnya menjaga gagasan agar tidak sekadar lewat dalam pikiran.

Pelajarannya: ide yang bagus belum menjadi ilmu yang bermanfaat jika tidak diolah. Biasakan menuliskan gagasan, alasan, dalil, pertanyaan, dan kesimpulannya.

Biografi Imam Nawawi – Al Qoyyim

3. Imam an-Nawawi (631–676 H)

Imam an-Nawawi menghasilkan karya penting dalam hadis, fikih, dan ilmu-ilmu Islam, di antaranya Riyāḍ aṣ-Ṣāliḥīn, Al-Arba‘īn an-Nawawiyyah, dan Al-Majmū‘. Kajian akademik tentang kehidupannya menunjukkan luasnya pengaruh karya-karyanya dalam tradisi keilmuan Islam.

image

e-jurnal.yadim.com.my

Ia menjadi contoh bagaimana spesialisasi, ketekunan belajar, pengajaran, dan penulisan bisa saling menguatkan.

Pelajarannya: kita tidak harus mempelajari semua bidang sekaligus. Kedalaman pada bidang utama, disertai pemahaman pendukung yang memadai, dapat menghasilkan karya yang bertahan lama.

Ada satu hal yang perlu ditekankan: kisah-kisah ini bukan bukti bahwa para ulama tidak pernah beristirahat atau selalu bekerja setiap menit. Sebagian rincian tentang jumlah karya dan kebiasaan ekstrem mereka berasal dari literatur biografi yang perlu dinilai secara kritis. Kita tidak seharusnya mengubah kisah ketekunan menjadi tuntutan untuk merusak kesehatan.

Apa yang bisa kita pelajari dari Ibnu ‘Aqil?

Ada satu gagasan yang sangat relevan dengan zaman sekarang: waktu tidak selalu hilang karena kita tidak melakukan apa-apa; waktu juga bisa hilang karena kita melakukan terlalu banyak hal yang tidak menghasilkan kemajuan berarti.

Bayangkan seseorang memiliki tiga jam luang.

  • Dua puluh menit membaca satu artikel.

  • Tiga puluh menit membuka tautan dari artikel itu.

  • Empat puluh menit menonton video yang direkomendasikan.

  • Tiga puluh menit membaca komentar dan perdebatan.

  • Empat puluh menit berpindah ke topik baru.

  • Dua puluh menit mencoba mengingat apa yang sudah dipelajari.

Ia telah berinteraksi dengan banyak informasi. Tetapi jika tidak ada pemahaman yang tersusun, catatan yang berguna, keputusan yang diambil, atau karya yang selesai, hasil akhirnya mungkin sangat kecil.

Bandingkan dengan tiga jam yang digunakan untuk membaca satu topik, memeriksa sumber, membuat ringkasan, dan mengajarkannya kepada orang lain.

Perbedaannya bukan pada banyaknya informasi yang masuk, melainkan pada seberapa banyak informasi yang berhasil diubah menjadi pengetahuan yang dapat digunakan.

3. Zaman sekarang: kita mengalami kelebihan informasi, bukan selalu kelebihan ilmu

Why Social Media Screen Time Is So Bad for Sleep | Scientific American

Il cervello impiega 23 minuti per tornare concentrato dopo ogni interruzione: quante volte vieni interrotto al lavoro ogni ora?

「朝の読書」は知識ではなく思考を編集する時間|岡田 基俊@思考を磨く読書家

8

Dahulu, kelangkaan akses ilmu menjadi salah satu hambatan. Sekarang, salah satu hambatan kita justru banyaknya pilihan.

Ada beberapa perbedaan mendasar.

Aspek Tradisi belajar yang terarah Konsumsi informasi tanpa arah
Tujuan Memahami masalah tertentu Mencari hal menarik berikutnya
Perhatian Bertahan pada satu persoalan Sering berpindah topik
Proses Membaca, menguji, mengulang Melihat, menyukai, melanjutkan
Hasil Pemahaman, catatan, karya, amal Banyak hal terasa familier
Ukuran kemajuan Apa yang sudah dikuasai atau diselesaikan Berapa banyak yang sudah dilihat

Ini bukan berarti media sosial selalu buruk. Kita bisa menemukan guru yang baik, ceramah bermanfaat, jurnal, kursus, bahkan komunitas belajar melalui media sosial. Masalahnya muncul ketika algoritma rekomendasi dan kebiasaan kita membuat konsumsi berlangsung tanpa batas dan tanpa tujuan yang jelas.

Mengapa kita merasa belajar padahal belum tentu memahami?

Ada tiga jebakan yang patut diwaspadai.

Pertama, ilusi pemahaman. Ketika membaca penjelasan yang mudah, kita merasa sudah mengerti. Namun, ketika diminta menjelaskan kembali tanpa melihat sumber, ternyata kita kesulitan.

Kedua, ilusi produktivitas. Menyimpan ratusan artikel, membuat banyak bookmark, dan memiliki daftar kursus panjang terasa seperti kemajuan. Padahal, mengumpulkan bahan bukan sama dengan menguasai isinya.

Ketiga, fragmentasi perhatian. Setiap perpindahan antara pesan, video, pekerjaan, dan artikel membawa biaya untuk kembali memahami konteks sebelumnya. Akibatnya, waktu yang tersedia tidak seluruhnya menjadi waktu berpikir mendalam.

Kita perlu berhati-hati agar tidak menyimpulkan bahwa generasi sekarang lebih malas daripada generasi terdahulu. Kondisi sosial, akses pendidikan, tuntutan mencari nafkah, teknologi, dan tanggung jawab keluarga juga berbeda. Namun, kita bisa mengatakan bahwa lingkungan digital modern membuat perhatian lebih mudah terpecah.

Paradoks AI: semakin mudah menghasilkan jawaban, semakin penting kemampuan berpikir

AI bisa membantu merangkum kitab, menjelaskan konsep pemrograman, membuat kerangka tulisan, dan membandingkan argumen. Tetapi ada perbedaan antara:

  • Memiliki jawaban dari AI.

  • Memahami mengapa jawaban itu benar atau salah.

  • Mampu menerapkannya dalam persoalan nyata.

  • Menghasilkan sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan.

Jika AI dipakai hanya untuk mempercepat konsumsi informasi, kita bisa semakin cepat berpindah dari satu topik ke topik lain. Sebaliknya, jika AI digunakan untuk menguji pemahaman, mencari kelemahan argumen, memeriksa sumber, dan membantu menyelesaikan proyek, ia dapat menjadi pengungkit produktivitas.

Teknologi seharusnya mengurangi beban kerja yang tidak perlu, bukan sekadar menambah jumlah hal yang kita konsumsi.

4. Sebenarnya, apa yang diajarkan Islam tentang waktu?

Persoalan ini bukan hanya tentang produktivitas. Ada dimensi yang lebih dalam: bagaimana seorang manusia mempertanggungjawabkan umur dan nikmat yang diberikan kepadanya.

Allah berfirman dalam Surah Al-'Ashr:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Wal-'aṣr. Innal-insāna lafī khusr.

“Demi masa. Sungguh, manusia benar-benar berada dalam kerugian.”

— QS. Al-'Ashr: 1–2

Surah ini kemudian mengecualikan orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Perhatikan bahwa jalan keluar dari kerugian bukan sekadar menjadi sibuk. Ia mencakup iman, amal saleh, kebenaran, dan kesabaran.

Artinya, kita tidak perlu mengukur keberhasilan hidup hanya dari jumlah buku, banyaknya proyek, atau berapa jam kita bekerja.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dalam memanfaatkannya adalah kesehatan dan waktu luang. Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6412.

image

Sunnah

+1

Kita sering baru menyadari nilai waktu setelah kehilangan kesempatan. Ketika masih sehat, kita menunda. Ketika punya kesempatan belajar, kita merasa masih ada hari esok. Ketika punya kemampuan membantu orang lain, kita menunggu sampai memiliki lebih banyak waktu.

Padahal, masa depan tidak pernah sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Namun, ada satu batas penting: menghargai waktu tidak berarti menganggap istirahat, keluarga, mencari nafkah, dan menjaga kesehatan sebagai pemborosan. Semua itu bisa menjadi bagian dari tanggung jawab dan amal saleh apabila dilakukan dengan benar.

5. Bagaimana menerapkan kebiasaan ulama di zaman sekarang?

Kita tidak perlu meniru seluruh keadaan hidup ulama abad pertengahan. Kita perlu mengambil prinsip yang relevan dan menerapkannya sesuai tanggung jawab kita hari ini.

Saya menyarankan lima prinsip.

1. Pilih satu tujuan utama dalam satu periode

Jangan menjadikan semua hal menarik sebagai prioritas. Pilih satu karya atau kemampuan yang ingin dikembangkan selama 30–90 hari.

Misalnya, menguasai satu bidang ilmu, menyelesaikan satu aplikasi, menyusun satu modul pembelajaran, atau menulis satu seri artikel.

2. Ubah konsumsi menjadi produksi

Setiap selesai membaca atau belajar, hasilkan sesuatu: ringkasan, catatan, penjelasan, kode, pelajaran, atau tindakan nyata.

Gunakan pertanyaan sederhana: Apa yang sekarang bisa saya jelaskan atau lakukan yang sebelumnya belum bisa saya lakukan?

3. Jadikan media sosial sebagai alat, bukan tempat tinggal

Buka media sosial dengan tujuan tertentu. Misalnya, mencari referensi, menjalin hubungan profesional, atau menerbitkan karya.

Matikan notifikasi yang tidak penting, hindari membuka linimasa sebelum pekerjaan utama selesai, dan jangan merasa harus mengikuti setiap perkembangan.

4. Bangun akumulasi, bukan mengejar ledakan produktivitas

Satu halaman catatan setiap hari menghasilkan sekitar 365 halaman dalam setahun jika konsisten. Dua puluh menit belajar setiap hari menghasilkan lebih dari 120 jam dalam setahun.

Angka tersebut adalah ilustrasi, bukan jaminan bahwa semua halaman akan berkualitas. Nilainya terletak pada akumulasi kerja yang dapat ditinjau dan diperbaiki.

5. Ukur manfaat, bukan sekadar kesibukan

Tanyakan apakah ilmu yang dipelajari memperbaiki ibadah, akhlak, pekerjaan, kemampuan mengajar, atau manfaat bagi orang lain.

Karya yang sederhana tetapi benar-benar membantu bisa lebih bernilai daripada karya besar yang tidak jelas manfaatnya.

6. Contoh jadwal belajar yang realistis

Tidak semua orang memiliki waktu luang sepanjang hari. Ada yang harus bekerja, mengajar, mengurus anak, atau mencari penghasilan. Karena itu, jadwal yang baik harus sesuai dengan kapasitas nyata, bukan hanya ideal di atas kertas.

Berikut contoh untuk seseorang yang memiliki pekerjaan dan tanggung jawab keluarga.

Ritme harian: ilmu → karya → manfaat

Contoh fleksibel, bukan kewajiban mengikuti jam tertentu.

Pagi

20–30 menit: ilmu utama

Membaca Al-Qur'an beserta tafsir atau mempelajari bidang yang sedang ditekuni. Fokus pada satu bagian, bukan mengejar banyak materi.

Siang

Pekerjaan dan tanggung jawab

Menjalankan pekerjaan, mengajar, mencari nafkah, dan menyelesaikan urusan keluarga. Catat gagasan penting yang muncul, tetapi tidak perlu menghentikan semua aktivitas untuk menindaklanjutinya.

Waktu fokus

30–60 menit: menghasilkan karya

Menulis, memprogram, menyusun materi, atau meneliti. Kerjakan satu tugas yang jelas tanpa berpindah ke linimasa media sosial.

Malam

5–10 menit: evaluasi

Apa yang dipelajari? Apa yang dihasilkan? Apa satu hal yang akan dilanjutkan besok? Setelah itu, berikan ruang untuk keluarga, istirahat, dan tidur yang cukup.

Jika hanya mampu menyediakan 20 menit sehari pada tahap awal, mulailah dari sana. Jangan membuat jadwal yang hanya bisa dipertahankan selama tiga hari.

7. Bagaimana jika diterapkan pada ilmu Al-Qur'an dan teknologi?

Ada pendekatan yang menurut saya menarik: jangan memisahkan belajar, berkarya, dan memberi manfaat sebagai tiga kegiatan yang selalu berdiri sendiri.

Misalnya, ketika mempelajari tafsir Surah Al-Ma'un:

  • Belajar: membaca ayat, tafsir yang tepercaya, dan penjelasan kosakata.

  • Mengolah: menyusun catatan tentang hubungan antarayat dan pelajaran yang dapat ditarik.

  • Menghasilkan: menulis artikel, membuat materi pengajaran, atau menambahkan penjelasan ke aplikasi Al-Qur'an.

  • Mengamalkan: memperbaiki sikap terhadap anak yatim, orang miskin, dan orang yang membutuhkan pertolongan, sesuai tuntunan ayat.

Satu proses belajar dapat menghasilkan pemahaman pribadi, bahan pengajaran, karya digital, dan dorongan untuk beramal. Tentu, manfaat itu tidak otomatis muncul; setiap tahap tetap membutuhkan ketelitian.

Prinsip yang sama berlaku pada teknologi. Saat mempelajari API, misalnya, jangan hanya menonton tutorial demi tutorial. Buat satu fitur yang berjalan, uji, dokumentasikan, lalu ajarkan kembali.

Dengan cara ini, ilmu tidak berhenti sebagai konsumsi.

8. Pertanyaan yang paling penting untuk direnungkan

Coba bayangkan kita memiliki sisa waktu produktif yang terbatas. Dalam sepuluh tahun, apa yang akan tertinggal dari cara kita menggunakan hari-hari ini?

Apakah hanya riwayat video yang ditonton, berita yang dibaca, percakapan yang dilupakan, dan pengetahuan yang terasa familier?

Atau ada sesuatu yang benar-benar tumbuh: pemahaman yang semakin matang, anak yang mendapat perhatian, murid yang semakin berilmu, aplikasi yang membantu orang lain, tulisan yang bisa diwariskan, atau amal yang terus memberi manfaat?

Kita tidak perlu menghasilkan karya sebanyak Ibnu al-Jauzi atau menjadi seperti Imam an-Nawawi. Kita juga tidak tahu berapa lama umur yang tersisa. Yang bisa kita upayakan adalah menjadikan hari ini bagian dari proses yang bermakna.

Jangan hanya bertanya, “Berapa banyak ilmu yang sudah saya konsumsi hari ini?” Tanyakan juga, “Apa yang sudah saya pahami, apa yang sudah saya amalkan, dan apa yang sudah saya hasilkan dari ilmu itu?”

Sebab pada akhirnya, ukuran kehidupan yang baik bukan semata-mata seberapa banyak yang kita kumpulkan, melainkan bagaimana kita menggunakan nikmat yang diberikan Allah untuk menjalankan tanggung jawab dan menghasilkan kebaikan.

About the author

  • I am an enthusiastic researcher and developer with a passion for using technology to innovate in business and education.

No comments yet. Be the first to comment.

More from this blog