Menemukan Kenikmatan Shalat: Abdurrahman bin Auf (Saudagar Kaya) Rela Meninggalkan Seluruh Kekayaannya

I am an enthusiastic researcher and developer with a passion for using technology to innovate in business and education.
Dalam perjalanan hidup manusia, sering kali kekayaan dianggap sebagai puncak kebahagiaan. Namun, bagi Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat Nabi ﷺ yang kaya raya, kebahagiaan sejati tidak terletak pada harta, melainkan pada kedekatan dengan Allah melalui shalat. Keimanannya yang kuat membuatnya rela meninggalkan seluruh kekayaannya di Makkah demi mempertahankan imannya, lalu kembali meraih kejayaan dengan tetap menjaga hubungan eratnya dengan Allah.
Kekayaan Abdurrahman bin Auf dan Keimanannya
Abdurrahman bin Auf adalah seorang saudagar sukses di Makkah. Ia memiliki harta berlimpah, bisnis yang berkembang pesat, dan kehidupan yang makmur. Namun, ketika Islam datang, ia menyadari bahwa ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada harta dunia, yaitu keimanan dan ibadah kepada Allah.
Saat tekanan terhadap kaum Muslimin meningkat, Rasulullah ﷺ dan para sahabat diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah. Kaum Quraisy yang menentang Islam menekan para sahabat agar meninggalkan harta mereka jika ingin pergi. Dalam kondisi ini, Abdurrahman tidak ragu untuk meninggalkan seluruh kekayaannya demi tetap berada di jalan Allah.
Ketika Abdurrahman hendak meninggalkan Makkah, kaum Quraisy menghadangnya dan berkata:
"Wahai Abdurrahman, engkau datang ke Makkah dalam keadaan miskin dan sekarang engkau telah menjadi seorang saudagar kaya. Apakah engkau ingin pergi dan meninggalkan semua hartamu begitu saja?"
Dengan tenang, Abdurrahman menjawab:
"Aku telah menjual hartaku kepada kalian dengan harga yang lebih baik, yaitu keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ambillah semua hartaku, aku hanya menginginkan ridha Allah dan kebebasan untuk menyembah-Nya."
Mendengar jawaban tersebut, kaum Quraisy pun mengambil seluruh hartanya, tetapi Abdurrahman tetap melanjutkan perjalanannya dengan hati yang teguh dan keyakinan yang penuh kepada Allah.
Hijrah: Melepaskan Dunia untuk Akhirat
Ketika sampai di Madinah, Rasulullah ﷺ mempersaudarakannya dengan Sa'ad bin Rabi' Al-Anshari. Sa’ad, seorang saudagar kaya, menawarkan sebagian hartanya kepada Abdurrahman, bahkan menawarkan untuk menceraikan salah satu istrinya agar Abdurrahman dapat menikahinya. Namun, Abdurrahman menolak dengan baik dan hanya meminta ditunjukkan jalan menuju pasar.
"Tunjukkan kepadaku jalan menuju pasar," katanya. Ini menunjukkan bahwa ia lebih memilih untuk kembali bekerja dan mencari rezeki dengan tangannya sendiri, tanpa bergantung pada manusia, tetapi tetap bergantung kepada Allah.
Perjalanan Bisnis Abdurrahman bin Auf di Madinah
Saat tiba di Madinah, Abdurrahman bin Auf tidak memiliki harta sama sekali. Namun, ia memiliki keterampilan berdagang yang unggul, kejujuran, serta keuletan dalam bekerja. Berikut adalah beberapa langkah strateginya dalam membangun kembali kekayaannya:
Memanfaatkan Pasar dengan Bijak – Abdurrahman mulai berdagang dengan modal kecil. Ia membeli dan menjual barang dengan harga yang adil serta tidak mengambil keuntungan berlebihan.
Jujur dan Amanah dalam Bisnis – Ia dikenal sebagai pedagang yang jujur dan tidak pernah menipu pelanggan. Ini membuat banyak orang lebih memilih berdagang dengannya dibandingkan pedagang lain.
Menjual Barang dengan Kualitas Terbaik – Ia hanya menjual barang yang berkualitas baik, sehingga orang-orang percaya dan selalu kembali untuk bertransaksi dengannya.
Menghindari Riba dan Praktik Bisnis Curang – Ia selalu menjaga agar bisnisnya tetap bersih dari riba dan praktik kecurangan, sehingga Allah memberikan keberkahan dalam hartanya.
Memutar Keuntungan dengan Cepat – Abdurrahman tidak menumpuk barang dalam waktu lama. Ia lebih memilih menjual barang dengan keuntungan kecil tetapi cepat berputar, sehingga modalnya selalu berkembang.
Berinvestasi dalam Perdagangan Unta dan Bahan Pokok – Seiring bertambahnya modal, ia mulai berdagang unta dan bahan makanan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Madinah.
Bersedekah di Setiap Keuntungan – Setiap keuntungan yang diperolehnya tidak pernah lepas dari sedekah. Ia menyadari bahwa semakin banyak ia bersedekah, semakin banyak keberkahan yang diberikan Allah dalam bisnisnya.
Dengan strategi tersebut, dalam waktu yang relatif singkat, Abdurrahman bin Auf kembali menjadi salah satu saudagar terkaya di Madinah. Namun, yang luar biasa adalah hartanya tidak pernah membuatnya lalai dari ibadah dan shalat.
Strategi dan Mindset: Kaya di Dunia, Dijamin Surga di Akhirat
Abdurrahman bin Auf tidak hanya kaya secara materi, tetapi juga memiliki strategi dan mindset yang membawanya menuju kesuksesan di dunia dan jaminan surga di akhirat. Berikut beberapa prinsip yang diterapkannya:
Jujur dalam Berdagang – Ia selalu menjalankan bisnisnya dengan penuh kejujuran, menghindari riba, dan tidak pernah menipu pelanggan.
Tidak Tamak akan Kekayaan – Meskipun memiliki banyak harta, ia tidak pernah terpikat oleh keserakahan. Kekayaannya justru digunakan untuk membantu umat Islam.
Menjadikan Shalat sebagai Prioritas – Ia tidak pernah lalai dalam shalatnya, bahkan di tengah kesibukan perdagangannya.
Bersedekah Tanpa Batas – Ia memahami bahwa semakin banyak ia memberi, semakin banyak keberkahan yang Allah berikan kepadanya.
Selalu Berusaha dan Tidak Bergantung pada Orang Lain – Setelah hijrah dan kehilangan semua hartanya, ia tidak meminta-minta tetapi langsung berusaha mencari rezeki sendiri.
Menggunakan Harta sebagai Sarana Ibadah – Kekayaannya tidak membuatnya lalai, tetapi justru menjadikannya lebih dekat dengan Allah melalui infak dan sedekah.
Riwayat Hadits
Beberapa riwayat hadis yang berkaitan dengan Abdurrahman bin Auf antara lain:
Dijamin Masuk Surga dengan Tertatih-Tatih
Rasulullah ﷺ bersabda:"Wahai Abdurrahman bin Auf, engkau termasuk orang yang masuk surga dengan merangkak."
(HR. Ahmad dan Tirmidzi)Hadis ini menunjukkan bahwa meskipun Abdurrahman bin Auf dijamin masuk surga, ia merasa khawatir karena banyaknya hartanya yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat. Oleh karena itu, ia banyak bersedekah untuk memastikan bahwa hartanya menjadi berkah.
Kedermawanannya dalam Perang Tabuk
Ketika Rasulullah ﷺ mengajak kaum Muslimin untuk berinfak dalam Perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf datang membawa harta yang sangat banyak. Diriwayatkan bahwa ia menyumbangkan 40.000 dinar untuk membantu pasukan Muslim. Melihat hal ini, Rasulullah ﷺ berkata:"Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abdurrahman?"
Ia menjawab: "Aku meninggalkan untuk mereka lebih banyak dan lebih baik, yaitu yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya."
(HR. Ahmad dan Al-Hakim)Doa Rasulullah ﷺ untuk Abdurrahman bin Auf
Setelah Abdurrahman bin Auf memberikan sumbangan besar kepada umat Islam, Rasulullah ﷺ berdoa untuk keberkahan hartanya:"Semoga Allah memberkahi hartamu yang tersisa."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kesimpulan
Abdurrahman bin Auf adalah contoh nyata bahwa kekayaan bukanlah penghalang untuk tetap taat kepada Allah. Bahkan, jika dikelola dengan baik, harta bisa menjadi jalan menuju surga. Ia membuktikan bahwa shalat adalah kunci ketenangan hidup, bahkan lebih berharga daripada seluruh harta yang pernah ia miliki.
Jika seorang saudagar seperti Abdurrahman bin Auf yang begitu sibuk tetap bisa menjaga shalatnya, mengapa kita yang jauh lebih sederhana masih sering lalai? Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk menjadikan shalat sebagai prioritas utama dalam kehidupan, dan menemukan kenikmatan sejati dalam rukuk serta sujud kita. Aamiin.
Baca juga: Salah Satu Cara Menemukan Kenikmatan dalam Shalat
Sumber: GPT Pro 4o (20 Feb 2025)
Setiap dalil terhubung dengan sumber Quran Insight (klik untuk melihat, ayat, terjemahan dan tafsir)




