Kisah Pohon Kurma dan Sebab Turunnya Surah Al-Lail

I am an enthusiastic researcher and developer with a passion for using technology to innovate in business and education.
Dalam sejarah Islam, terdapat banyak kisah yang mengandung pelajaran berharga, salah satunya adalah kisah seorang lelaki kaya yang kikir terhadap hartanya dan seorang sahabat dermawan, Abu Dahdah. Kisah ini menjadi sebab turunnya Surah Al-Lail ayat 5–10, yang mengajarkan tentang keutamaan bersedekah dan akibat dari sifat kikir.
Kisah Seorang Lelaki Kikir dan Pohon Kurmanya
Di Madinah, terdapat seorang lelaki kaya yang memiliki kebun kurma yang luas dan subur. Ia terkenal sebagai seseorang yang kikir dan tidak suka berbagi dengan orang miskin. Setiap kali panen tiba, ia selalu memastikan bahwa tidak ada satu pun buah kurma yang jatuh diambil oleh orang lain, bahkan oleh mereka yang kelaparan.
Tetangga lelaki ini adalah seorang pria miskin yang memiliki banyak anak. Suatu hari, salah satu anaknya yang kelaparan melihat sebutir kurma jatuh ke tanah dan mengambilnya. Namun, si pemilik kebun melihat kejadian itu dan segera merebut kurma tersebut dari tangan anak itu. Tidak hanya itu, ia bahkan memukul wajah si anak dengan buah kurma tersebut dan mengusirnya dengan kasar.
Berita tentang kejadian ini sampai kepada Rasulullah ﷺ. Beliau sangat prihatin dengan kejadian tersebut dan kemudian menemui pemilik kebun kurma itu.
Rasulullah ﷺ Menegur Pemilik Pohon Kurma
Rasulullah ﷺ berkata kepadanya,
"Wahai Fulan, tidakkah engkau ingin memberikan pohon kurma itu kepadaku? Aku akan menjaminkan bagimu sebuah pohon di surga sebagai gantinya."
Namun, lelaki kikir itu justru tersenyum sinis dan berkata,
"Wahai Muhammad, aku memiliki banyak pohon kurma, dan pohon ini adalah yang terbaik. Mengapa aku harus memberikannya begitu saja?"
Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan,
"Allah menjanjikan sesuatu yang jauh lebih baik dari dunia ini. Jika engkau memberikan pohon itu, Allah akan menggantinya dengan pohon kurma di surga yang buahnya tidak akan pernah habis."
Namun, si pemilik kebun tetap bersikeras dan tidak mau menyerahkan pohon itu. Ia lebih memilih keuntungan duniawi daripada janji Allah di akhirat.
Abu Dahdah Membeli Pohon Kurma Itu
Di antara para sahabat yang menyaksikan kejadian itu adalah Abu Dahdah, seorang sahabat Nabi yang dikenal sangat dermawan. Ia merasa iba terhadap keluarga miskin tersebut dan ingin membantu mereka.
Abu Dahdah lalu mendekati pemilik kebun dan berkata,
"Wahai Fulan, apakah engkau ingin menjual pohon itu kepadaku?"
Lelaki itu bertanya,
"Apa yang akan kau berikan sebagai gantinya?"
Abu Dahdah pun menjawab,
"Aku akan memberimu kebun kurmaku yang luas, penuh dengan pohon-pohon yang lebih banyak daripada pohon ini."
Mendengar tawaran itu, lelaki kikir itu segera setuju karena tamak dan ingin mendapatkan keuntungan lebih besar di dunia. Setelah kesepakatan terjadi, Abu Dahdah langsung menemui Rasulullah ﷺ dan berkata,
"Ya Rasulullah, aku telah membeli pohon itu dan kini pohon tersebut adalah milikmu. Berikanlah kepada anak yatim itu."
Rasulullah ﷺ sangat terharu dan bersabda,
"Betapa beruntungnya Abu Dahdah! Betapa beruntungnya Abu Dahdah! Allah telah menggantikan kebunmu dengan kebun yang penuh pohon kurma di surga!"
Istri Abu Dahdah yang Beriman
Setelah transaksi selesai, Abu Dahdah pulang ke rumah dan berkata kepada istrinya,
"Wahai istriku, keluarlah dari kebun itu, karena aku telah menjualnya demi pohon di surga!"
Sang istri, yang juga memiliki iman yang kuat, tidak marah atau kecewa. Sebaliknya, ia berkata,
"Sungguh perdagangan yang menguntungkan, wahai Abu Dahdah!"
Kemudian, mereka meninggalkan kebun itu dengan penuh keyakinan bahwa Allah telah menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik.
Turunnya Surah Al-Lail
Tidak lama setelah kejadian ini, Allah menurunkan ayat dalam Surah Al-Lail (92:5-10), yang menjelaskan perbedaan antara orang yang dermawan dan orang yang kikir:
"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebaikan). Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak butuh Allah), serta mendustakan pahala terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kesulitan (kesengsaraan)." (QS. Al-Lail: 5-10)
Ayat ini menjadi bukti bahwa Allah memudahkan urusan bagi orang yang dermawan dan bertakwa, sementara orang yang kikir akan mengalami kesulitan dalam hidupnya.
Kesudahan Orang Kikir Itu
Setelah beberapa waktu, pemilik baru kebun kurma itu mengalami berbagai kesulitan. Panennya semakin berkurang, kebunnya terkena musibah, dan akhirnya ia jatuh miskin. Ia baru menyadari kesalahannya, tetapi kesempatan emas untuk memperoleh pohon di surga telah berlalu.
Pelajaran dari Kisah Ini
Kedermawanan membawa keberkahan – Orang yang bersedekah dengan ikhlas akan mendapatkan pahala berlipat ganda, baik di dunia maupun di akhirat.
Janji Allah lebih berharga daripada dunia – Abu Dahdah memahami bahwa satu pohon kurma di surga lebih baik daripada kebun yang luas di dunia.
Kekikiran hanya membawa kesulitan – Pemilik pohon kurma yang kikir akhirnya jatuh miskin dan menyesali keputusannya.
Keteladanan dalam keluarga – Istri Abu Dahdah menunjukkan keimanan yang kuat dengan mendukung suaminya dalam kebaikan.
Kisah ini mengajarkan bahwa kehidupan dunia hanya sementara, sementara kehidupan akhirat adalah yang sesungguhnya. Semoga kita bisa meneladani sikap Abu Dahdah dalam bersedekah dan tidak terjebak dalam sifat kikir yang hanya membawa penyesalan.
Wallahu a’lam.
inpirasi dari Ust. Sigit Hatta dan cerita disempurnakan oleh AI




